Tunanetra Ikuti Simulasi Pilkada Jabar

Tunanetra Ikuti Simulasi Pilkada Jabar

- in Berita, Kegiatan
167
0

Tanggal 24 Februari 2013 mendatang, propinsi Jawa Barat akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah. Partisipasi tiap warga Jawa Barat tentu amat diharapkan, termasuk warga penyandang disabilitas. Mengingat masih minimnya pengetahuan mengenai Pemilu aksesibel, baik dari pihak KPUD sebagai penyelenggara Pemilu, maupun dari disabilitas sendiri sebagai pemilih, maka Pertuni Depok dan PPUA Penca pun berinisiatif untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan. Sosialisasi dan simulasi Pilkada Jabar dengan tema “Peran Kelompok Strategis dalam Mensukseskan Pilkada Jabar” itu berlangsung di gedung Graha Insan Cita, Depok pada Jumat lalu (21/12).

Dra. Hj. Ariani, selaku ketua PPUA Penca turut menyampaikan beberapa hal kepada seluruh peserta seminar yang hadir. Ia menjelaskan, bahwa kehadiran PPUA Penca adalah untuk menjadi wadah bagi para disabilitas dalam menuangkan aspirasi politik mereka, untuk memilih, dipilih, dan menjadi penyelenggara Pemilu. Menurut Ariani, pengetahuan tentang kepemiluan amat diperlukan oleh penyandang disabilitas. “Kita perlu merintis disabilitas untuk berperan aktif dalam kepemiluan, misalnya untuk menjadi anggota Panwaslu atau KPUD,” katanya.

Ariani juga memaparkan mengenai azas Pemilu, yaitu LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia). Langsung, berarti tidak diwakili. Artinya, KPUD harus menyediakan alat bantu coblos bagi tunanetra, agar dapat memilih sendiri secara langsung. Umum, berarti Pemilu berhak dan wajib diikuti oleh tiap warga Negara, tak terkecuali para penyandang disabilitas. Untuk itu, KPUD harus menghilangkan berbagai hambatan dan menyediakan alat bantu, agar Pemilu dapat diikuti oleh penyandang disabilitas. Bebas, berarti tidak ada paksaan untuk memilih calon pemimpin. Rahasia, berarti yang mengetahui pilihan tersebut hanya kita sendiri dan Tuhan. Jika seorang disabilitas membutuhkan pendamping dalam pencoblosan, maka si pendamping harus mengisi formulir C6 untuk menjamin agar ia tidak membocorkan pilihan si disabilitas. “Kalau pendampingnya membocorkan pilihan kita, dia bisa terkena sanksi,” jelas Ariani.

Selanjutnya, Made Adi Gunawan menjelaskan penggunaan template bagi pemilih tunanetra. Template terbuat dari karton dan berbentuk seperti map, sehingga kertas suara dapat disisipkan di antara lembaran template. Berikan lubang pada template sesuai dengan jumlah calon gubernur, lubang juga harus berada tepat di atas foto cagub yang tertera pada kertas suara yang disisipkan pada template. Misalnya, jika cagub Jabar 2013 ada lima orang, maka lubang template harus berjumlah lima buah dan disesuaikan dengan posisi foto cagub pada kertas suara. Berikan pula huruf Braille di bawah lubang tersebut untuk menandai nomor urut tiap cagub. Supaya tunanetra tidak terbalik dalam membuka kertas suara, maka sebaiknya kertas suara diberikan tanda hologram pada sudut kiri atau kanan atas. “Bisa juga kertas dipotong sedikit miring pada salah satu sudutnya, seperti yang biasa kita temukan pada kartu SIM handphone,” jelas Adi.

Setiap TPS sebaiknya memiliki satu buah template. Pemilih tunanetra mungkin tidak terlalu banyak, jadi template dapat digunakan secara bergantian. Adi juga menekankan, bahwa tiap TPS harus memiliki template, jangan hanya pada lokasi-lokasi yang diperkirakan terdapat pemilih tunanetra saja. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi tunanetra yang mungkin baru saja pindah tempat tinggal atau sedang tugas kerja di wilayah lain. Selain itu, bisa saja jika ada seseorang yang baru menjadi tunanetra akibat sakit atau kecelakaan.

Tidak lupa, Adi juga memberikan pemaparan singkat kepada para anggota KPUD tentang cara menyapa dan menuntun pemilih tunanetra. Hal ini penting agar tidak terjadi ketidaknyamanan dan kesalahpahaman antara petugas KPUD dan pemilih tunanetra itu sendiri. Terakhir, kegiatan tersebut pun ditutup dengan simulasi. Beberapa orang tunanetra dipanggil menuju bilik suara yang telah disediakan. Mungkin bagi orang nontunanetra mencoblos surat suara adalah hal yang sederhana. Akan tetapi tidak demikian dengan tunanetra. “Biasanya tunanetra baru benar-benar memahami sesuatu jika dia sudah menyentuhnya,” kata Adi.

***

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Evaluasi Pilkada Serentak 2017 yang Inklusif dan Aksesibel

Download Laporan Evaluasi Klik DI SINI Pilkada Serentak